Leumeung Makan Kas Dari Malingping

Puluhan Tahun Jualan Di Trotoar, Kerap Diusir Kerap Juga Diapresiasi

Ragam cara manusia mempertahankan kelangsungan hidupnya, salah satunya seperti yang dilakukan para pedagang Leumeung khas malingping ini. Meskipun kerap diusir karena menjajakan dagangannya di trotoar jalan, hingga puluhan tahun mereka tetap bertahan. Namun, jadi kebanggaan tersendiri ketika mereka dianggap mampu melestarikan makanan yang menjadi ciri khas produksi masyarakat malingping.

Seorang pedagang Leumeung tengah sibuk menjajakan-
dagangannya di terotoar jalan pasar malingping
Sore itu, Selasa (11/11/2014) matahari hampir meninggalkan siang, petanda malam akan segera tiba. Ibu-ibu paruh baya pedagang Leumeung dengan wajah lesu masih berjejer menjajakan dagangannya di trotoar jalan. Sepintas, dagangannya itu tidak begitu jelas terlihat, karena yang terlihat hanya seperti bambu sisa reruntuhan yang terbakar. Ya, itu lah Leumeung, makanan khas malingping yang terbuat dari beras ketan dicampur bumbu santan kelapa dan kacang merah yang dimasak didalam ruasan bambu.

Makanan ini, sudah lama menjadi ikon makanan dari tanah pakidulan, bahkan sudah terkenal hingga ke manca nagara. Sayangnya, tidak begitu banyak orang yang bisa membuat makanan ini. Menurut Sarminah (50) salah seorang pedagang Leumeung menuturkan, bahwa dagangannya itu dibuat oleh dirinya sendiri. Dia, bisa membuat makanan itu hasil belajar dari orang tuanya. “Saya mah bisanya dari orang tua, jaadi ini mah turun temurun gitu. Sekarang sudah jarang yang bisa membuat makanan ini, hanya beberapa orang saja,” tuturnya.

Dia mengaku menjual Leumeung ini dilakukannya sudah sejak tahun 1980-an, meneruskan usaha orang tuanya. Kendati kerap diusir dari tampat jualan itu karena dinilai mengganggu sarana ummum, dirinya tetap bertahan. Motivasinya, selain karena sudah menjadi satu-satunya mata pencaharian hidup, dia juga ingin melestarikan makanan yang menjadi ciri khas daerah malingping ini. “Dari dulu tempat jualan Leumeung itu disini, jadi kalau pun diusir, pasti kami balik lagi kesini,” katanya.

Bagi dirinya, bisa memproduksi dan menjual Leumeung ini jadi kebanggaan tersendiri, karena makanan ini sudah dikenal sebagai ikon makanan khas daerah malingping. Dalam satu kali produksi, Sarminah menghabiskan 30 liter beras ketan, yang bisa dikemas menjadi 40 ruas bambu. Saat ini, lanjut dia, harga satu ruas Leumeung itu Rp 10 ribu sampai Rp 15 ribu. Namun, karena makanan ini tidak bisa bertahan lama, sehingga kalau tidak habis dijual dalam satu hari Leumeung ini dibuang begitu saja. “Tidak mungkin di besokan lagi, karena bakal basi,” imbuhnya.

Yang membeli Leumeung ini, sahut Siti (45) pedagang Leumeung lainnya, kebanyakan dari luar kota atau orang yang hendak ke luar kota. “Ya istilahnya mah buat oleh-oleh khas malingping gitu,” katanya.

Dia mengaku sedih kalau sedang berjualan ada aparat yang menertibkannya, karena hanya tempat itulah yang menurutnya ideal untuk dagang leang tersebut. Walau dia juga mengakui, kalau tempat itu bukan diperuntukan untuk berrjualan. “Kita sudah nyaman disini,” katanya.

Ada rasa bahagia, lanjut Siti, ketika ada pejabat tinggi yang perhatian apalagi mau menyempatkan diri membeli Leumeung khas malingping ini. Mereka biasanya menyempatkan diri untuk berbincang dan mengapresiasi para pedagang Leumeung ini, karena dianggap telah berhasil melestarikan makanan yang menjadi ikon daerah Malingping.

0 comments: