Berdiri Ratusan Tahun Yang Lalu
Mejid Besar Baiturachim
yang terletak tepatnya di sebelah barat Alun-alun Malingping, berdiri diatas
lahan seluas kurang-lebih 1.200 meter persegi, merupakan mesjid kebanggaan
masyarakat malingping, lantaran dikabarkan mesjid itu merupakan cikal bakal
terbentuknya Kota Malingping, hampir setiap hari mesjid itu di padati jemaah,
terlebih letaknya yang cukup strategis berada di tengah-tengah Kota Malingping,
sehingga tepat menjadi persinggahan masyarakat luas. Mesjid dengan motif
bangunan seperti mesjid-mesjid di Negara Timur Tengah, dengan dua menara yang
menjulang keangkasa, memiliki kubah besar dan hampir seluruh dinding didalam
mesjid ini di penuhi tulisan kaligrafhy dengan goresan tinta emas, menandakan
mesjid tersebut memiliki keistimewaan tersendiri.
Seperti halnnya, Kiyai Haji
Sujaya Arsudin yang merupakan Ketua Majlis Ulama Indonesia (MUI) Malingping,
saat ditanya mengenai sejarah mesji itu, Ia hanya menyarankan untuk
menanyakannya kepada kasepuhan yang benar-benar tahu atau kepada keluarga besar
Mina. “Yang saya tahu, mesjid ini pernah di perlebar pada tahun 1958, dari 13x15
meter persegi menjadi 18x15 meter persegi, setelah itu di perlebar lagi pada
tahun 1963, menjadi 25x15 meter persegi, kembali di perlebar lagi pada tahu
1990 menjadi 30x15, dan ditahu 2012, mungkin ini yang terakhir dengan membangun
lantai dua, karena tanahnya terbatas. Kalau untuk sejarah asal muasalnya, saya
tidak tahu, coba hubungi keluarga besar mina,” katanya.
Minggu (21/7), usai mengikuti
berjamaah shalat asar di mesjid itu, saya bertemu dengan Abah Haji Jarkasih,
yang diceritakan banyak orang, bahwa ia merupakan salah satu anggota keluarga
Mina, dan dianggap paling mengetahui seluk beluk sejarahnya. Ia pun
menceritakannya, sesuai dengan yang ia ketahui. “Sebenarnya Abah (Jarkasih
menyebutkan dirinya-red) juga tidak banyak tahu, tentang sejarah mesjid ini
secara detail. Abah hanya akan meceritakan sepengetahuan Abah saja,” katanya.
Ia mengatakan, bahwa
mesjid itu dibangun pada abad ke-16, oleh seorang tokoh pejuang asal sumedang,
bernama Uyut Mina. Uyut Mina yang merupakan putara dari Adipati Wangsanata atau
disebut juga Wangsataruna alias Dipati Ukur, yang merupakan pemimpin pasukan
perang yang menyerbu VOC di Batavia pada tahun 1628, pada saat itu ia menjabat
sebagai Wedana Bupati Priangan. Jarkasih menyebutkan, bahwa dirinya
merupakan generasi ke-6, keturunan dari Uyut Mina, sang pendiri mesjid
tersebut.
Pada masanya Uyut Mina
merupakan sosok tokoh pejuang yang sangat di hormati oleh masyarakat Malingping.
Ia datang ke tanah Malingping dalam gerakan perjuangan mengusir penjajah
kolonial belanda pada pertengahan abad ke-16, dan menetap selamanya hingga
beliau wafat dan di makamkan di malingping, tepatnya ia dimakamkan di belakang Kantor
Kecamatan Malingping.
Mesjid Besar Baiturachim
berdiri diatas tanah milik Kiyai Haji Idris yang juga merupakan kerabat
keluarga besar Uyut Mina, dan dibantu oleh Kiyai Haji Ahmad dalam segala pembiayaannya.
Sehingga hingga saat ini, kepengurusan dan peerawatan mesjid itu, tidak lepas
dari keluarga Uyut Mina.
Dalam mendirika mesjid, Uyut
Mina memiliki tujuan, yaitu igin mempersatukan umat islam yang hampir setiap
harinya keluar masuk daerah malingping. Halaman Mesjid yang kini merupakan
Alun-alun Malingping, dahulu merupakan tempat parkirnya kuda milik para tamu,
sementara di sekeliling Alun-alun, dahulu di kelilingi pohon asam, hingga kini
tampak tersisa satu pohon asam yang masih bertahan, ada di Alun-alun.
Sehingga, sejak mesjid besar
baiturahim berdiri, Malingping menjadi sangat ramai disinggahi para pengembara yang
hendak menjalankan shalat. Dan akhirnya, dahulu setelah malingping ramai
dikunjungi para pengembara, malingping menjadi tempat tempat yang strategis,
untuk melakukan transaksi tukar barang hasil alam.
Kini Malingping merupakan
pusat Pemerintahan Kecamatan, yang di gadang-gadangkan kelak akan menjadi pusat
pemerintahan kabapaten.
0 comments:
Post a Comment