Netizen Bayar vs Pemerintah Kota Serang

Akhir-akhir ini msyarakat Indonesia dihebohkan dengan razia warung makanan yang dilakukakan Pemerintah Kota Serang yang dalam hal ini adalah Satuan Polisi (Satpol) Pamong Praja (PP), razia yang dilakukan Satpol PP bukan tanpa alasaan, mereka bukan bertindak semaunya, mereka mengerjakan peraturan daerah kota serang dimana warung nasi dilarang buka selama bulan Ramadhan.
Dari sekian banyak warung yang dirazia, akhirnya Satpol PP merazia warung nasi milik ibu separuh baya yang buka dibulan Ramadhan, yang tidak beretika, kenapa demikian karena ibu tersbut buka warungnya dibulan ramadhan dengan cara terang-terangan, razia semacam ini biasanya rutin dilakukan pemerintah, okp islam dan masyarakat setiap tahun selama bulan ramadhan, tetapi tahun ini yang melakukan razia hanya Satpol PP saja tidak melibatkan OKP Islam dan Masyarakat, dilakukannya razia dikarenakan mereka berpikir warung yang buka dibulan ramadhan tidak sesuai dengan etika di Masyarakat Banten, dimana masyarakat banten sangat menjungjung tinggi nilai agama dan rasa saling menghormati satu sama lain bukan halnya ibu warung nasi yang terkena razia yang tidak memiliki rasa saling menghormati kepada yang sedang berpuasa, hal inilah yang menjadikan razia dilakukan, karena warung nasi yang buka dibulan ramadhan sangat mengganggu rutinitas keseharian masyarakat yang sedang berpuasa ditambah lagi warung nasi buka secara mencolok yang membuat geram Pemerintah Kota Serang. dan dari nilai ini tidaklah benar membiarkan warung yang buka dibulan ramadhan dibiarkan buka.
Diliat dari masalah yang mengebohkan Masyarakat ini, bisa dikatakan masalah ini sepele-bukan bermaksud untuk membela Pemerintah Kota Serang-karena hal ini rutin dilakukan pemerintah setiap tahun dibulan ramadhan, karena sebelum melakukan razia biasanya pemerintah melakukan penyebaran selebaran atau peberitahuan kepada masyarakat bahwa dilarang warung nasi buka selama Ramadhan agar kesucian Ramadhan selalu terjaga. Tapi sangat sangat disayangkan ada oknum yang tidak bertanggung jawab yang mencoba menggiring opini dalam razia tahun ini agar masyarakat berpikir razia sangat bertentangan dengan HAM dan Toleransi antarumat beragama, parahnya oknum ini mencoba membenturkan masyarakat dengan pemerintah, sampai-sampai rame dimasyarakat, bahkan masyarakat mencoba memberikan sumbangsi kepada ibu warung yang terkena razia dengan total anggaran yang sangat menajubkan-kalau seperti ini lebih baik kita bermain dengan pemerintah, kita membuka warung nasi dibulan ramadhan dan mengintruksikan Satpol PP agar dirazia dan diexspose oleh media gara mendapatkan bantuan dari Masyarakat-dengan total anggaran Rp. 200 Juta lebih, bukan hanya masyarakat kejadian seperti ini nyatanya sampai membuat Presidenpun turun tangan dan memberikan sumbangan sebesar Rp. 10 Juta.
Memang aneh, masyarakat lebih prihatin kepada hal yang bisa kita katakan mengganggu orang yang sedang berpuasa, kenapa hal ini bisa dikatakan demikian? Karena warung yang buka dibulan ramadhan sangatlah tidak memiliki etika beragama, sangat tidak toleransi kepada masyarakat muslim. Pemerintah tidak akan merazia kalau ibu warung itu tidak pulgar dalam berjualan nasi. Seolah-olah tidak menghargai yang sedang berpuasa.
Tulisan ini bukan bermaksud mengurangsi rasa toleransi dan mendukung pemerintah, rasa toleransi bukan semacam itu kita lakukan, toleransi bagi penulis bisa menghargai antarumat beragama ketika melakukan rutinitasnya, tanpa mengganggu baik secara langsung dan tidak langsung. Dan buat masyarakat lebih cerdiklah dalam memilah masalah yang ingin dikasihani, bukan terjerumus dalam penggiringan opini yang dilakukan oknum yang tidak bertanggung jawab. Mendukung warung-warung nasi buka dibulan Ramadhan.
Dalam Islam memang tidak melarang warung nasi buka dibulan ramadhan, tapi alangkah bijaknya bila warung nasi itu berlebihan dalam memamerkan barang daganganya agar tidak menyulut rasa lapar dan haus.
Dari pada kita meramaikan masalah razia ini, alangkah baiknya kita mentolerin diri kita sendiri, bemilih mana yang baik yang harus kita lakukan, hal seperti ini seperti menelan air nanah sendiri. Kenapa demikian Mayoritas masyarakat Banten muslim, yang berjualan nasi muslim dan kita dibenturkan oleh oknum untuk saling tidak percaya dan mencurigai sesama muslim
 
Penulis : Hendra

0 comments: